Rabu, 07 Maret 2012

Jeritan Orangtua


Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu, maklumilah diriku. Disaat daku menumpahkan kuah sayuran dibajuku, disaat aku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu, ingatlah saat aku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya. Saat aku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu, bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku. Dimasa kecilmu, aku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat aku membutuhkanmu untuk memandikanku, janganlah menyalahkanku. Ingatkah dimasa kecilmu bagaimana aku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?. Disaat aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi moderen, janganlah menertawaiku. Renungkanlah bagaimana aku dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu.

Kata-Kata dari seorang Sahabatku yg Duluu


“Adalah sebuah kesalahan ketika mempercayai orang yang seharusnya tidak patut diberi kesempatan untuk belajar dipercayai.”

                “Adalah suatu kesalahan ketika telah menganggap orang itu keluarga namun orang itu tak menganggapnya apa-apa”

“Kejujuran adalah hal penting dalam suatu pertemanan. Tapi manusia adalah sumber kesalahan, tak pernah luput dari salah.”
        “Aku setuju sekali, tapi cobalah kau ketahui kenapa dia berbuat salah. Jangan langsung men-judge kesalahanya”

Jumat, 23 Desember 2011

Nongol di Koran tribun Timur Makassar

Awal tahun 2011 lalu, saya memiliki kesempatan untuk mengikuti diklat lanjut jurnalistik yang diadakan olh Universitas Negeri Jakarta. cerita mengenai itu sudah saya tuliskan dalam tulisanku yang lalu-lau. yang ingin saya tampilkan kali ini adalah mengenai tulisanku yang sempat terbit di tribun timur makassar.

Bentuk tulisan saya ini dimuat dalam rubrik citizen reporter. kala itu kanda ana, wartawan tribun menghubungi kami bertiga; saya, hardianti dan fadli mustamin untuk membuat list acaranya supaya dinaik cetak di edisi besoknya. kami pun bersepakat saya yang menulis dan mengirimnya ke email k'ana. dan anda bisa melihat hasilnya di e paper tribun timur seperti yang saya upload diatas. check it out.

Selasa, 18 Oktober 2011

Tulisan dari Blog Sebelah

Dulu, tanggal 20 Januari 2009 Kubulatkan tekadku tuk mendaftar di organisasi apapun itu. Dan yg terbuka saat itu PK identitas, ya.. kupaksakan diriku tuk mengikuti pemagangannya meski ku tahu di sana pastilah sangat berat.

Minggu, 25 September 2011

Ahmadiyah “Banting Tulang”


Apa jadinya jika kebebasan kepercayaan anda dikekang oleh oknum tertentu? Apa jadinya juga jika anda beribadah tiba-tiba terjadi penyerangan dari oknum yang bertindak radikal?

            Suasana rumah di Jalan Annuang terasa berbeda. Di sudut jalan itu terdapat sebuah rumah dengan pagar yang dipasang frontline (garis batas, red) polisi.  Pagarnya tertutup rapat dengan  rantai yang terikat dikunci pagar. Sekilas, tempat itu tidak berbeda dengan rumah yang lain. Yang membedakan rumah itu adalah diatasnya terdapat tulisan “aku bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan meyakini bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah”(dalam tulisan arab, red).  Rumah itu adalah Masjid An-Nushrat Ahmadiyah.

Iuran Tanpa Landasan



Saat mengurus KRS semester lalu, beberapa Jurusan membuat aturan tambahan yaitu membayar iuran himpunan. Ternyata penyetoran iuran ini tidak mendapat restu dari rektorat. 

Awal Semester genap Tahun Ajaran (TA) 2011 telah dimulai, aktivitas perkuliahan pun telah berjalan seperti biasanya. Kegiatan himpunan yang sempat tersendat, kini mulai jalan lagi sepulangnya para anggota dari aktivitas liburnya. Namun disela-sela liburan, ada saja lembaga yang mempersiapkan kegiatanya untuk mencari dana.
Contohnya saja di Himpunan Mahasiswa Sastra Asia Barat (Himab) Untuk mendapatkan dana kegiatan mereka mengajukan berbagai proposal ke berbagai Instansi. Dan bahkan untuk mencukupi dana yang kurang, pada saat pengurusan Kartu Rencana Studi (KRS) semester lalu mereka meminta kerjasama dengan Jurusan untuk memungut iuran himpunan.

Sertifikasi Guru, Ilmu Kependidikan Semakin tak Mendapat Tempat


Bangunan bercorak merah mendulang gagah dan megah di tengah kampus hijau Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di atasnya tertera aljabar ‘UNJ’ dengan besar. Gedung itu bernama Pusat Studi dan Sertifikasi Guru. Menurut penjaga keamanan yang bertugas di sana, gedung ini telah berdiri selama setahun setelah diresmikan oleh Menteri Pendidikan Moh. Nuh. Informasi itu belum cukup untuk menjawab berbagai pertanyaan lain sebagai bagian dari informasi penting yang ingin kami dapatkan saat akan melakukan liputan dan mengolahnya menjadi berita. Penelusuran pun berlanjut.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...